Senin, 13 Juli 2026

AAUI: Strategi Asuransi Marine Cargo Hadapi Tarif Trump

AAUI: Strategi Asuransi Marine Cargo Hadapi Tarif Trump
AAUI: Strategi Asuransi Marine Cargo Hadapi Tarif Trump

JAKARTA - Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Amerika Serikat mulai berlaku Agustus 2025 memicu kekhawatiran di industri asuransi umum Indonesia, khususnya asuransi marine cargo. Peningkatan tarif hingga 32% bagi barang ekspor-impor Indonesia-AS diperkirakan akan menurunkan volume perdagangan bilateral, yang berimbas langsung pada penurunan premi asuransi kargo laut. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengingatkan pelaku industri untuk bersiap menghadapi perubahan pasar dengan strategi diversifikasi dan adaptasi produk agar kinerja tetap terjaga.

Potensi Penurunan Volume Perdagangan dan Premi Asuransi Marine Cargo

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi memberlakukan tarif impor resiprokal terhadap beberapa negara mitra dagang utama, termasuk Indonesia. Tarif baru ini akan mulai berlaku pada 1 Agustus 2025 dengan nilai mencapai 32% untuk Indonesia. Kebijakan ini membuka babak baru dalam ketegangan perdagangan global dan memberikan dampak yang signifikan bagi sektor ekspor-impor.

Baca Juga

Garuda Perkuat Layanan Lewat Skema Baru Bagasi Piece Concept

Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, menjelaskan bahwa jika kebijakan ini berjalan sesuai rencana, volume pengangkutan barang antara Indonesia dan AS bisa mengalami penurunan. "Dalam jangka pendek, hal itu bisa menekan pertumbuhan kinerja lini tersebut," ujarnya. Karena premi asuransi marine cargo sangat bergantung pada volume dan nilai perdagangan internasional, penurunan aktivitas perdagangan dipastikan akan berdampak pada pendapatan premi di sektor ini.

Meski demikian, Budi optimis bahwa permintaan domestik di bidang logistik dan ekspor-impor dalam negeri masih cukup stabil, sehingga secara keseluruhan kinerja asuransi marine cargo diperkirakan tetap positif sampai akhir tahun.

Strategi Adaptasi dan Peluang Pasar Baru

Mengantisipasi dampak negatif dari tarif tersebut, AAUI mendorong perusahaan asuransi untuk melakukan diversifikasi portofolio. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan berbagai jenis kargo, menyesuaikan rute pengangkutan, serta memperluas negara tujuan ekspor-impor.

“Pergeseran pasar ekspor dari AS ke kawasan lain seperti Asia Timur, Timur Tengah, atau Eropa bisa menjadi peluang untuk mempertahankan kinerja,” kata Budi. Selain itu, kolaborasi yang erat antara perusahaan asuransi dengan eksportir, pelayaran, dan broker asuransi menjadi kunci dalam menciptakan produk asuransi yang lebih adaptif dan responsif terhadap dinamika geo-ekonomi.

Di tengah tantangan global ini, pemerintah Indonesia juga terus berupaya melakukan negosiasi dengan AS agar kebijakan tarif dapat direvisi atau mendapatkan keringanan. Sementara itu, data AAUI menunjukkan bahwa pendapatan premi lini asuransi marine cargo pada kuartal I-2025 mencapai Rp 1,71 miliar, tumbuh tipis 0,5% dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan potensi pertumbuhan yang masih ada meski menghadapi tekanan.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Perkuat Ekosistem Digital, DSSA Gelontorkan Rp8,54 Triliun ke BMT

Perkuat Ekosistem Digital, DSSA Gelontorkan Rp8,54 Triliun ke BMT

PORSENI 2026, Cara PNM Perkuat Sinergi dan Budaya Kerja Karyawan

PORSENI 2026, Cara PNM Perkuat Sinergi dan Budaya Kerja Karyawan

Kelola 4,11 Juta Hektare Aset, Agrinas Palma Raih Surplus Rp2,86 T

Kelola 4,11 Juta Hektare Aset, Agrinas Palma Raih Surplus Rp2,86 T

Waskita Karya Perkuat Ketahanan Pangan Lewat 29 Bendungan

Waskita Karya Perkuat Ketahanan Pangan Lewat 29 Bendungan

Diresmikan Prabowo, Bendungan Sidan dan Keureuto Perkuat Ketahanan Air

Diresmikan Prabowo, Bendungan Sidan dan Keureuto Perkuat Ketahanan Air