Minggu, 20 September 2026

Mengenal Soft Productivity, Tren Kerja Santai untuk Cegah Burnout

Mengenal Soft Productivity, Tren Kerja Santai untuk Cegah Burnout
Ilustrasi kerja [FOTO: NET].

JAKARTA - Tumpukan beban kerja sering kali memicu tekanan untuk terus bekerja tanpa jeda. Padahal, ritme kerja yang terlalu cepat justru berisiko merusak keseimbangan hidup. 

Namun, para ahli menyebutkan bahwa ada sebuah pendekatan baru bernama soft productivity yang secara tegas lebih mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas.

Mengutip Real Simple, Sabtu (19/9/2026), pendekatan ini dapat membantumu menentukan prioritas tugas dan secara efektif menekan risiko kelelahan ekstrem secara fisik maupun mental.

Baca Juga

TCL Punya 3 Merek Teknologi Sendiri, RayNeo Kuasai 42% Pasar Kacamata AR

Mengenal konsep soft productivity dan tips menerapkannya

Apa itu soft productivity?

Berseberangan dengan budaya gila kerja, konsep ini mengajakmu untuk mengelola tumpukan beban kerja dengan tempo yang lebih lambat dan penuh kesadaran.

"Pendekatan ini lebih menghargai energi dan fokus yang berkelanjutan daripada sekadar menuntaskan seluruh daftar tugas tanpa henti," jelas pekerja sosial klinis berlisensi (LCSW) di Wellcore Healing, Alexis Verbin.

”Sebagai gantinya, kami mengidentifikasi dan memprioritaskan beberapa tugas penting, lalu menyelipkan waktu istirahat untuk memulihkan diri ke dalam jadwal tersebut,” lanjutnya.

Prioritas fokus dibanding urgensi

Pendekatan yang berakar pada gerakan gaya hidup santai ini juga dinilai lebih mengutamakan fokus pekerjaan ketimbang sekadar urgensi.

"Soft productivity berlabuh pada pemahaman bahwa niatlah yang membuat produktivitas menjadi berkelanjutan," ujar pekerja sosial klinis berlisensi (LCSW) yang berspesialisasi dalam masalah duka dan kecemasan, HJ Cho.

Produktivitas tradisional berfokus pada hasil akhir, di mana daftar tugas mengendalikan harimu sampai waktu habis.

"Seberapa sibuk kamu terlihat dan seberapa cepat kamu menyelesaikan daftar tersebut menjadi lebih penting daripada apa yang sebenarnya berhasil diselesaikan," lanjut Cho.

Kerja terlalu keras bikin hilang fokus

Pandangan umum yang kaku mengenai arti produktivitas terkadang justru memberikan hasil yang bertolak belakang dengan harapan awal.

"Semakin kami memaksakan diri tanpa jeda dan keseimbangan, kami akan semakin kehilangan fokus, kreativitas, efisiensi, serta keakuratan," kata Verbin.

Terlebih, pola pikir yang selalu ingin sibuk ini bisa memicu kelelahan jangka panjang karena kamu tidak pernah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk benar-benar beristirahat.

"Hal ini bermula dari gagasan bahwa setiap jam di kalender harus diisi dengan sesuatu yang produktif," ungkap Verbin.

"Istirahat tidak diizinkan sampai semuanya selesai. Namun, karena daftar tugas tidak pernah benar-benar ada habisnya, istirahat harian yang sangat dibutuhkan oleh pikiran dan tubuh kami pun terus-menerus dikesampingkan," lanjutnya.

Cara menerapkan soft productivity

1. Tentukan prioritas tugas

Sebelum benar-benar memulai hari kerjamu, luangkan waktu sejenak untuk memikirkan satu atau dua tugas yang paling memberikan dampak signifikan bagi perusahaan atau klien. 

Pastikan kamu selalu mengerjakan dan menuntaskan tugas-tugas utama tersebut sebelum akhirnya beralih membereskan pekerjaan lain yang sifatnya kurang mendesak.

2. Sesuaikan pekerjaan dengan tingkat energi

Biasakan untuk selalu melakukan pekerjaan yang paling krusial dan rumit saat kamu merasa energi di dalam tubuh sedang berada di puncaknya.

"Kebanyakan orang secara otomatis mengerjakan tugas-tugas kecil lebih dulu, seperti mengecek surel, yang mana ini berarti pekerjaan yang jauh lebih penting justru mendapat sisa tenaga paling sedikit," ujar Cho.

3. Tetapkan standar cukup baik

Verbin sangat merekomendasikan agar kamu menentukan hasil akhir seperti apa yang sekiranya bisa diterima sebelum benar-benar memulai dan mengakhiri sebuah proyek.

"Sikap perfeksionis memang bisa menghasilkan pekerjaan berkualitas tinggi, tetapi itu juga bisa mengubah tugas yang seharusnya selesai dalam 45 menit menjadi proyek yang memakan waktu empat jam," jelasnya.

Oleh karena itu, sangat penting untuk menetapkan batas akhir penyelesaian dan mendefinisikan dengan jelas seperti apa wujud hasil yang masuk dalam kategori "cukup baik".

"Sebagai contoh, sebuah tugas untuk klien mungkin hanya memerlukan dua kali pemeriksaan ulang, bukan sepuluh kali. Tentukan standarnya sebelum kamu mulai, dan berhentilah ketika kamu sudah mencapai standar 'cukup baik' yang telah ditetapkan sebelumnya," kata Verbin.

4. Abaikan penilaian orang lain

Kamu sama sekali tidak perlu merasa tertekan untuk terus lembur di kantor atau membiarkan status kerjamu selalu aktif di aplikasi komunikasi hanya agar terlihat rajin oleh atasan maupun rekan kerja.

 Walaupun membandingkan diri dengan orang lain sangat mudah dilakukan di lingkungan kerja, ingatlah bahwa ritme kerja setiap orang sangat bervariasi. Kamu tidak sedang mengikuti perlombaan apa pun.

5. Jadwalkan waktu istirahat

Saat sedang asyik menatap layar komputer, seseorang akan sangat mudah melupakan waktu yang terus berjalan.

"Tanpa disadari, waktu sudah menunjukkan pukul 16.59 sore, dan kamu belum istirahat sama sekali," ujar Verbin.

Rutinkan memasukkan jadwal istirahat ke dalam kalender kerja, sama persis seperti saat kamu menjadwalkan rapat penting. Pilihlah kegiatan sederhana yang mampu membuat perasaanmu jauh lebih tenang, alih-alih melakukan aktivitas yang justru menguras tenaga.

"Tujuannya adalah untuk memberikan otakmu waktu istirahat yang sesungguhnya sehingga kamu benar-benar kembali bekerja dengan pikiran yang segar," pungkas Verbin.

Andika Riyan Satriya Nugraha

Andika Riyan Satriya Nugraha

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

5 Fakta soal Stand Laptop Murah yang Jarang Diketahui

5 Fakta soal Stand Laptop Murah yang Jarang Diketahui

iOS 27 Ubah Cara Kerja Focus Mode di iPhone, Ini Dampaknya buat Pengguna

iOS 27 Ubah Cara Kerja Focus Mode di iPhone, Ini Dampaknya buat Pengguna

Mengapa Anak Laki-Laki Lebih Rentan Buta Warna? Ini Kata Dokter

Mengapa Anak Laki-Laki Lebih Rentan Buta Warna? Ini Kata Dokter

Rahasia Chicken Katsu Renyah dan Tepung Tidak Buyar ala Willgoz

Rahasia Chicken Katsu Renyah dan Tepung Tidak Buyar ala Willgoz

Kota-Kota Kecil Italia Memikat di Penghujung Musim Panas

Kota-Kota Kecil Italia Memikat di Penghujung Musim Panas