Mengenal Soft Productivity, Tren Kerja Santai untuk Cegah Burnout
- Sabtu, 19 September 2026
JAKARTA - Tumpukan beban kerja sering kali memicu tekanan untuk terus bekerja tanpa jeda. Padahal, ritme kerja yang terlalu cepat justru berisiko merusak keseimbangan hidup.
Namun, para ahli menyebutkan bahwa ada sebuah pendekatan baru bernama soft productivity yang secara tegas lebih mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas.
Mengutip Real Simple, Sabtu (19/9/2026), pendekatan ini dapat membantumu menentukan prioritas tugas dan secara efektif menekan risiko kelelahan ekstrem secara fisik maupun mental.
Baca JugaTCL Punya 3 Merek Teknologi Sendiri, RayNeo Kuasai 42% Pasar Kacamata AR
Mengenal konsep soft productivity dan tips menerapkannya
Apa itu soft productivity?
Berseberangan dengan budaya gila kerja, konsep ini mengajakmu untuk mengelola tumpukan beban kerja dengan tempo yang lebih lambat dan penuh kesadaran.
"Pendekatan ini lebih menghargai energi dan fokus yang berkelanjutan daripada sekadar menuntaskan seluruh daftar tugas tanpa henti," jelas pekerja sosial klinis berlisensi (LCSW) di Wellcore Healing, Alexis Verbin.
”Sebagai gantinya, kami mengidentifikasi dan memprioritaskan beberapa tugas penting, lalu menyelipkan waktu istirahat untuk memulihkan diri ke dalam jadwal tersebut,” lanjutnya.
Prioritas fokus dibanding urgensi
Pendekatan yang berakar pada gerakan gaya hidup santai ini juga dinilai lebih mengutamakan fokus pekerjaan ketimbang sekadar urgensi.
"Soft productivity berlabuh pada pemahaman bahwa niatlah yang membuat produktivitas menjadi berkelanjutan," ujar pekerja sosial klinis berlisensi (LCSW) yang berspesialisasi dalam masalah duka dan kecemasan, HJ Cho.
Produktivitas tradisional berfokus pada hasil akhir, di mana daftar tugas mengendalikan harimu sampai waktu habis.
"Seberapa sibuk kamu terlihat dan seberapa cepat kamu menyelesaikan daftar tersebut menjadi lebih penting daripada apa yang sebenarnya berhasil diselesaikan," lanjut Cho.
Kerja terlalu keras bikin hilang fokus
Pandangan umum yang kaku mengenai arti produktivitas terkadang justru memberikan hasil yang bertolak belakang dengan harapan awal.
"Semakin kami memaksakan diri tanpa jeda dan keseimbangan, kami akan semakin kehilangan fokus, kreativitas, efisiensi, serta keakuratan," kata Verbin.
Terlebih, pola pikir yang selalu ingin sibuk ini bisa memicu kelelahan jangka panjang karena kamu tidak pernah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk benar-benar beristirahat.
"Hal ini bermula dari gagasan bahwa setiap jam di kalender harus diisi dengan sesuatu yang produktif," ungkap Verbin.
"Istirahat tidak diizinkan sampai semuanya selesai. Namun, karena daftar tugas tidak pernah benar-benar ada habisnya, istirahat harian yang sangat dibutuhkan oleh pikiran dan tubuh kami pun terus-menerus dikesampingkan," lanjutnya.
Cara menerapkan soft productivity
1. Tentukan prioritas tugas
Sebelum benar-benar memulai hari kerjamu, luangkan waktu sejenak untuk memikirkan satu atau dua tugas yang paling memberikan dampak signifikan bagi perusahaan atau klien.
Pastikan kamu selalu mengerjakan dan menuntaskan tugas-tugas utama tersebut sebelum akhirnya beralih membereskan pekerjaan lain yang sifatnya kurang mendesak.
2. Sesuaikan pekerjaan dengan tingkat energi
Biasakan untuk selalu melakukan pekerjaan yang paling krusial dan rumit saat kamu merasa energi di dalam tubuh sedang berada di puncaknya.
"Kebanyakan orang secara otomatis mengerjakan tugas-tugas kecil lebih dulu, seperti mengecek surel, yang mana ini berarti pekerjaan yang jauh lebih penting justru mendapat sisa tenaga paling sedikit," ujar Cho.
3. Tetapkan standar cukup baik
Verbin sangat merekomendasikan agar kamu menentukan hasil akhir seperti apa yang sekiranya bisa diterima sebelum benar-benar memulai dan mengakhiri sebuah proyek.
"Sikap perfeksionis memang bisa menghasilkan pekerjaan berkualitas tinggi, tetapi itu juga bisa mengubah tugas yang seharusnya selesai dalam 45 menit menjadi proyek yang memakan waktu empat jam," jelasnya.
Oleh karena itu, sangat penting untuk menetapkan batas akhir penyelesaian dan mendefinisikan dengan jelas seperti apa wujud hasil yang masuk dalam kategori "cukup baik".
"Sebagai contoh, sebuah tugas untuk klien mungkin hanya memerlukan dua kali pemeriksaan ulang, bukan sepuluh kali. Tentukan standarnya sebelum kamu mulai, dan berhentilah ketika kamu sudah mencapai standar 'cukup baik' yang telah ditetapkan sebelumnya," kata Verbin.
4. Abaikan penilaian orang lain
Kamu sama sekali tidak perlu merasa tertekan untuk terus lembur di kantor atau membiarkan status kerjamu selalu aktif di aplikasi komunikasi hanya agar terlihat rajin oleh atasan maupun rekan kerja.
Walaupun membandingkan diri dengan orang lain sangat mudah dilakukan di lingkungan kerja, ingatlah bahwa ritme kerja setiap orang sangat bervariasi. Kamu tidak sedang mengikuti perlombaan apa pun.
5. Jadwalkan waktu istirahat
Saat sedang asyik menatap layar komputer, seseorang akan sangat mudah melupakan waktu yang terus berjalan.
"Tanpa disadari, waktu sudah menunjukkan pukul 16.59 sore, dan kamu belum istirahat sama sekali," ujar Verbin.
Rutinkan memasukkan jadwal istirahat ke dalam kalender kerja, sama persis seperti saat kamu menjadwalkan rapat penting. Pilihlah kegiatan sederhana yang mampu membuat perasaanmu jauh lebih tenang, alih-alih melakukan aktivitas yang justru menguras tenaga.
"Tujuannya adalah untuk memberikan otakmu waktu istirahat yang sesungguhnya sehingga kamu benar-benar kembali bekerja dengan pikiran yang segar," pungkas Verbin.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Asing Borong SUN Rp 10,5 Triliun dalam Sehari, Tertinggi Sejak 2019
- Senin, 24 Agustus 2026
Berita Lainnya
iOS 27 Ubah Cara Kerja Focus Mode di iPhone, Ini Dampaknya buat Pengguna
- Sabtu, 19 September 2026
Terpopuler
1.
Mengenal Soft Productivity, Tren Kerja Santai untuk Cegah Burnout
- 19 September 2026
2.
Ultra Voucher Siapkan Private Placement Sebanyak 200 Juta Saham
- 19 September 2026
3.
BRI Resmikan Gedung Baru BO Kuta, Sediakan Layanan Money Changer
- 19 September 2026
4.
Harga Emas di Pegadaian Sabtu 19 September 2026: Antam, UBS, Galeri 24
- 19 September 2026
5.
TikTok Shop Pangkas Batas Komisi Dinamis Jadi Maksimal Rp60.000
- 19 September 2026












