Minggu, 20 September 2026

Hilirisasi Minerba Butuh SDM Andal, Kontribusi Sektor ke Negara Capai Rp138 Triliun

Hilirisasi Minerba Butuh SDM Andal, Kontribusi Sektor ke Negara Capai Rp138 Triliun
Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, menyampaikan paparan dalam Seminar Nasional di Kampus 1 UPN Veteran Yogyakarta, Sleman, Senin (22/8/2026).

energi. Hal ini menjadi sorotan dalam Seminar Nasional di UPN Veteran Yogyakarta, Senin (22/8/2026). ISI:

VARIABISNIS.COM — Yogyakarta, 22 Agustus 2026 — Industri pertambangan berada di persimpangan besar. Di satu sisi, sektor ini masih menjadi penyumbang devisa dan pendapatan negara yang signifikan. Di sisi lain, tekanan untuk berbenah diri sangat kuat: tuntutan hilirisasi, digitalisasi operasi, hingga praktik keberlanjutan yang ketat. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap secara sumber daya manusia (SDM) menghadapi semua itu?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk "Mempersiapkan SDM Unggul, Inovatif, dan Produktif untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045". Acara ini digelar Alumni Angkatan 1976 UPN Veteran Yogyakarta bersama Majalah TAMBANG di Kampus 1 UPN Veteran Yogyakarta, Sleman.

Kontribusi Rp138 Triliun dan Empat Tantangan Industri

Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si., memaparkan posisi strategis sektor minerba. Pada 2026, sektor ini menyumbang sekitar 8,8% terhadap perekonomian nasional. Dari sisi penerimaan negara, kontribusinya impresif: hingga akhir 2025, sektor sumber daya alam menyumbang Rp248,8 triliun ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dengan minerba menjadi penyumbang terbesar sekitar Rp138 triliun.

Baca Juga

Pupuk Indonesia Siap Pasok Agroinput demi Swasembada Bawang Putih, Impor Masih 90%

Namun, menurut Irhas, ukuran keberhasilan sektor ini tidak bisa berhenti pada angka produksi dan penerimaan negara. "Ukuran lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan sektor ini menciptakan nilai tambah yang tinggal di Indonesia. Kita perlu bertanya, berapa banyak teknologi yang mampu kita kuasai, seberapa luas kesempatan kerja berkualitas yang tercipta, serta seberapa baik lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah tambang dapat terlindungi," ujarnya.

Ia mengidentifikasi empat tantangan utama yang harus dijawab industri: hilirisasi, keberlanjutan, digitalisasi, dan tata kelola. Hilirisasi menuntut pergeseran dari ekspor bahan mentah ke produksi komponen industri. Keberlanjutan menuntut pengelolaan lingkungan dan reklamasi yang ketat. Digitalisasi menuntut penguasaan otomatisasi dan kecerdasan artifisial.

Ekspor Nikel Melonjak Hingga 10 Kali Lipat

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, memaparkan dampak konkret hilirisasi. Nilai ekspor nikel dan turunannya melonjak drastis dari sekitar US$3,3 miliar pada 2017 menjadi US$33,9 miliar pada 2024. Peningkatan ini menjadi bukti nyata bagaimana hilirisasi menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja.

Pemerintah memproyeksikan program hilirisasi hingga 2040 dapat mendorong investasi sekitar US$618 miliar. Program ini juga berpotensi menciptakan sekitar 3 juta lapangan kerja baru. "Pertanyaannya kemudian, siapa yang akan mengisi lapangan pekerjaan tersebut? Jawabannya adalah SDM Indonesia," tegas Tri.

Ia juga menyoroti besarnya skala industri batubara nasional. Sepanjang 2025, produksi mencapai sekitar 817 juta ton, dengan 522 juta ton atau 63,89% di antaranya diekspor. Angka ini menunjukkan tantangan besar untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, bukan sekadar mengangkut batu bara ke luar negeri.

Kampus dan Industri: Kunci Menyiapkan Generasi Emas

Tri menegaskan, transisi energi tidak mengurangi arti penting mineral. Justru sebaliknya, kebutuhan terhadap mineral kritis untuk panel surya, baterai kendaraan listrik, dan teknologi energi masa depan semakin meningkat. "Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk memberikan manfaat bagi bangsa dan negara," pungkasnya.

Karena itu, perguruan tinggi memegang peran strategis untuk memastikan lulusannya siap kerja. Kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan dunia usaha perlu diperkuat melalui pembelajaran berbasis industri, riset, dan penguasaan teknologi digital. UPN Veteran Yogyakarta sendiri mendorong penguatan link and match, riset kolaboratif, serta ekosistem talenta untuk menyiapkan SDM minerba yang unggul, inovatif, dan berintegritas menyongsong Indonesia Emas 2045.

Redaksi

Redaksi

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Tren Makan Tabungan Meluas, Gadai ValueMax Tetap Bidik Likuiditas

Tren Makan Tabungan Meluas, Gadai ValueMax Tetap Bidik Likuiditas

Prabowo Soroti Rakyat Belum Sadar Indonesia Digadang Jadi Ekonomi Keempat Dunia 2050

Prabowo Soroti Rakyat Belum Sadar Indonesia Digadang Jadi Ekonomi Keempat Dunia 2050

OJK Wajibkan Mineral Strategis Lolos Uji Mutu Sebelum Diperdagangkan di BMKS

OJK Wajibkan Mineral Strategis Lolos Uji Mutu Sebelum Diperdagangkan di BMKS

Ultra Voucher Siapkan Private Placement Sebanyak 200 Juta Saham

Ultra Voucher Siapkan Private Placement Sebanyak 200 Juta Saham

Ultra Voucher (UVCR) Siap Private Placement 200 Juta Saham, Modal buat Ekspansi Bisnis

Ultra Voucher (UVCR) Siap Private Placement 200 Juta Saham, Modal buat Ekspansi Bisnis