Minggu, 20 September 2026

Asing Borong SUN Rp 10,5 Triliun dalam Sehari, Tertinggi Sejak 2019

Asing Borong SUN Rp 10,5 Triliun dalam Sehari, Tertinggi Sejak 2019
Petugas menunjukkan dokumen lelang Surat Berharga Negara (SBN) di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta.

VARIABISNIS.COM — Keputusan BI menahan suku bunga acuan di tengah tekanan global menjadi sinyal kuat bagi pasar. Investor menilai bank sentral tidak akan lagi menaikkan bunga secara agresif untuk menahan pelemahan rupiah, sehingga risiko investasi di obligasi pemerintah dianggap semakin menarik.

Keyakinan ini langsung terbukti. Sepanjang Agustus, nilai tukar rupiah sudah menguat 1,8 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terbaik di Asia. Penguatan ini berbanding terbalik dengan awal tahun ketika rupiah sempat tertekan hebat.

“Tingginya pembelian bersih asing merupakan dampak positif dari strategi perubahan arah BI. Tidak ada lagi kekhawatiran akan pengetatan suku bunga lebih lanjut untuk meredam depresiasi mata uang,” ujar Wee Khoon Chong, ahli strategi pasar senior Asia Pasifik di BNY kepada Bloomberg.

Baca Juga

Pupuk Indonesia Siap Pasok Agroinput demi Swasembada Bawang Putih, Impor Masih 90%

Kebijakan Baru BI: Mengurangi Ketergantungan pada SRBI

Di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Destry Damayanti, BI juga mengubah haluan kebijakan. Bank sentral memutuskan untuk mengurangi frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari yang tadinya setiap pekan menjadi dua minggu sekali.

Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk tidak terlalu bergantung pada instrumen SRBI dalam menarik investor asing ke rupiah. Sebelumnya, SRBI menjadi andalan BI untuk menstabilkan kurs, namun kini fokus bergeser ke penguatan fundamental pasar obligasi.

Stabilitas nilai tukar yang terjaga juga mendorong imbal hasil atau yield obligasi turun. Yield obligasi tenor 10 tahun sudah turun 52 basis poin dari puncaknya di Juni, sementara tenor 5 tahun turun lebih dalam lagi, yakni 69 basis poin.

Sentimen Fiskal Ikut Menopang Minat Investor

Daya tarik obligasi Indonesia tidak hanya datang dari kebijakan moneter. Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menekan defisit anggaran tahun depan turut memperbaiki persepsi investor terhadap kesehatan fiskal negara.

“Membaiknya kredibilitas fiskal, penguatan rupiah, serta tidak adanya lelang SRBI pekan lalu merupakan faktor-faktor yang memicu arus masuk dana tersebut,” kata Jessica Tasijawa, analis pendapatan tetap di PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Permintaan yang tinggi juga terlihat pada lelang obligasi pemerintah pekan lalu. Rasio penawaran terhadap target mencapai 2,64 kali, tertinggi sejak Desember. Nilai penawaran dari investor asing bahkan melonjak hingga Rp 17,2 triliun, jauh di atas rata-rata tahun ini yang sebesar Rp 8,3 triliun.

Dengan total pembelian bersih asing sepanjang bulan ini yang sudah mencapai US$ 931,74 juta, optimisme pasar terhadap ekonomi Indonesia kembali terkumpul. Arus modal masuk ini menjadi penopang penting bagi nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.

Redaksi

Redaksi

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Tren Makan Tabungan Meluas, Gadai ValueMax Tetap Bidik Likuiditas

Tren Makan Tabungan Meluas, Gadai ValueMax Tetap Bidik Likuiditas

Prabowo Soroti Rakyat Belum Sadar Indonesia Digadang Jadi Ekonomi Keempat Dunia 2050

Prabowo Soroti Rakyat Belum Sadar Indonesia Digadang Jadi Ekonomi Keempat Dunia 2050

OJK Wajibkan Mineral Strategis Lolos Uji Mutu Sebelum Diperdagangkan di BMKS

OJK Wajibkan Mineral Strategis Lolos Uji Mutu Sebelum Diperdagangkan di BMKS

Ultra Voucher Siapkan Private Placement Sebanyak 200 Juta Saham

Ultra Voucher Siapkan Private Placement Sebanyak 200 Juta Saham

Ultra Voucher (UVCR) Siap Private Placement 200 Juta Saham, Modal buat Ekspansi Bisnis

Ultra Voucher (UVCR) Siap Private Placement 200 Juta Saham, Modal buat Ekspansi Bisnis