Telkom Garap Pemisahan Infrastruktur Tahap II Senilai Rp 49,9 Triliun, InfraNexia Kuasai 90 Persen Aset Jaringan
- Selasa, 11 Agustus 2026
Langkah ini merupakan kelanjutan dari pemisahan tahap pertama yang efektif berjalan sejak Januari 2026. Setelah seluruh proses pengalihan portofolio dan aset rampung, InfraNexia diproyeksikan menguasai lebih dari 90 persen aset jaringan yang sebelumnya dimiliki Telkom.
Aset yang dialihkan mencakup jaringan akses pelanggan hingga core backbone dan infrastruktur pendukung lainnya. Totalnya mencapai sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut domestik.
Mesin Pertumbuhan Baru di Tengah Strategi TLKM 30
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa pemisahan ini bukan sekadar restrukturisasi internal. Ia menyebut langkah ini sebagai strategi kunci dalam transformasi TLKM 30 untuk membuka nilai aset infrastruktur Telkom Group sekaligus memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru.
Baca JugaPupuk Indonesia Siap Pasok Agroinput demi Swasembada Bawang Putih, Impor Masih 90%
"Spin-Off InfraCo Tahap 2 sebagai langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru, yang akan meningkatkan kapabilitas layanan infrastruktur, mengoptimalkan efisiensi bisnis, serta membuka peluang kemitraan strategis guna mendukung percepatan konektivitas digital nasional," ujar Dian.
Dengan pemisahan ini, Telkom ingin bisnis infrastrukturnya lebih fokus dan lincah dalam menangkap peluang pasar. InfraNexia nantinya akan melayani berbagai kebutuhan konektivitas, mulai dari layanan 5G backhaul, wholesale network, FTTx, hingga passive infrastructure sharing.
Menjaring Kemitraan Strategis dan Dukungan Danantara
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menjelaskan bahwa pembentukan InfraNexia merupakan bagian dari penataan portofolio TelkomGroup. Tujuannya membangun bisnis infrastruktur digital dengan nilai proposisi lebih kuat dan fleksibilitas kemitraan strategis yang lebih terbuka.
Langkah ini juga sejalan dengan inisiatif Danantara Asset Management dalam mengonsolidasikan aset-aset BUMN. Dian menambahkan, "Dengan kehadiran InfraNexia kami optimistis dapat menghadirkan layanan yang lebih cepat, andal, dan berkualitas sehingga mampu memberikan customer experience yang terbaik bagi pelanggan."
Meski beroperasi lebih fokus, Telkom tetap memegang kendali penuh sebagai pemegang saham mayoritas InfraNexia dengan kepemilikan lebih dari 99 persen. InfraNexia diarahkan beroperasi secara profesional dan melayani pelanggan secara netral tanpa mengganggu layanan yang sedang berjalan.
Menyongsong Era AI dan Data Center
Transformasi InfraNexia tidak berhenti di pemisahan aset semata. Perusahaan juga mempercepat modernisasi jaringan dan mendorong implementasi autonomous network untuk memenuhi kebutuhan trafik digital generasi berikutnya.
Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf, menyatakan optimisme perusahaan menghadapi babak baru ini. "Kami optimistis penyelesaian spin-off ini semakin memperkokoh InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur konektivitas wholesale yang netral dan andal," katanya.
Ia juga menyebut penguatan infrastruktur akan mendukung pengembangan konektivitas untuk kebutuhan AI, cloud, dan data center di Indonesia. Model pemisahan bisnis seperti ini sebenarnya sudah dipakai operator global seperti Telstra, Telecom Italia, dan Telenor.
Telkom memastikan seluruh transaksi spin-off dilakukan transparan sesuai prinsip Good Corporate Governance dan memenuhi aturan hukum serta regulasi, termasuk ketentuan Otoritas Jasa Keuangan. Dengan portofolio yang lebih ramping, InfraNexia diharapkan mampu bergerak lebih cepat menangkap peluang pasar infrastruktur digital yang terus tumbuh.
Zahra Kurniawati
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Asing Borong SUN Rp 10,5 Triliun dalam Sehari, Tertinggi Sejak 2019
- Senin, 24 Agustus 2026
Berita Lainnya
Tren Makan Tabungan Meluas, Gadai ValueMax Tetap Bidik Likuiditas
- Minggu, 20 September 2026
Prabowo Soroti Rakyat Belum Sadar Indonesia Digadang Jadi Ekonomi Keempat Dunia 2050
- Minggu, 20 September 2026
OJK Wajibkan Mineral Strategis Lolos Uji Mutu Sebelum Diperdagangkan di BMKS
- Minggu, 20 September 2026
Ultra Voucher (UVCR) Siap Private Placement 200 Juta Saham, Modal buat Ekspansi Bisnis
- Sabtu, 19 September 2026
Terpopuler
1.
Mengenal Soft Productivity, Tren Kerja Santai untuk Cegah Burnout
- 19 September 2026
2.
Ultra Voucher Siapkan Private Placement Sebanyak 200 Juta Saham
- 19 September 2026
3.
BRI Resmikan Gedung Baru BO Kuta, Sediakan Layanan Money Changer
- 19 September 2026
4.
Harga Emas di Pegadaian Sabtu 19 September 2026: Antam, UBS, Galeri 24
- 19 September 2026
5.
TikTok Shop Pangkas Batas Komisi Dinamis Jadi Maksimal Rp60.000
- 19 September 2026











